Showing posts with label FILARIASIS. Show all posts
Showing posts with label FILARIASIS. Show all posts

Tuesday, May 14, 2013

ETIOLOGI, SIKLUS HIDUP, DAN PENULARAN FILARIASIS

Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori sebagai penyebab filariasis limfatik hidup eksklusif dalam tubuh manusia. Cacing berada pada sistem limfatik pada “network” antara pembuluh limfe dan pembuluh darah yang memelihara keseimbangan cairan tubuh dan merupakan komponen yang essensial untuk sistem pertahanan imun tubuh. Cacing hidup selama 4-6 tahun menghasilkan larva (mikrofilaria) yang akan ikut dalam sirkulasi darah (ANONIM., 2000).
Siklus hidup ketiga spesies cacing filaria (Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori ) adalah hampir mirip. Larva infektif stadium 3 (L3i) masuk ke dalam darah melalui luka oleh gigitan nyamuk. Larva bermigrasi ke kelenjar limfe yang terrdekat selanjutnya menjadi cacing dewasa dalam waktu kira-kira 3 bulan-1 tahun. Rata- rata waktu inkubasi sebelum menjadi infektif adalah 15 bulan. Cacing dewasa dapat hidup 5-10 tahun dan menyebabkan berbagai masalah karena kerusakan pembuluh limfe dan respon sistem imun yang dihasilkan (ANONIM.,1996).
W. bancrofti dan B. timori tidak memerlukan reservoir hewan. Sebaliknya pada B.malayi dilaporkan dapat menginfeksi kera ataupun mamalia lain sehingga bersifat zoonosis (BUCK, 1991). Masing masing penyebab filaria memiliki periodisitas yang berbeda yang terkait dengan prilaku vektor, siklus sikardian inang serta wilayah kasus (MCMAHON dan SIMONSEN,1996). Periodisitas akan dapat berubaha jika prilaku vektor utama juga berubah akibat tekanan terhadap siklus hidupnya. Tekanan revolusioner terhadap hidupnya diperkirakan akan mempercepat perubahan prilaku vektorsehingga akan mempengaruhi perubahan penularan dan periodisitas mikrofilaria. Siklus sikardian inang justru terkait dengan aktivitas dari inang. Perubahan aktivitas iang juga akan mempengaruhi siklus sikardian dan periodisitas mikrofilaria.
Diperkirakan kurang lebih 77 spesies nyamuk dari genus Anopheles, Aedes, Culex, dan Mansonia dapat mendukung perkembangan Wuchereria bancrofti, tetapi secara alami hanya sebagian kecil yang dapat berlaku sebagai vektor (SCHMIDT dan ROBERT, 2000). Nyamuk Culex dan anopheles merupakan vektor utama bentuk periodik “nocturnal”, sedang bentuk sub periodik ditransmisikan nyamuk Aedes polynesiensis. Pada B. malayi, bentuk periodik nocturnal ditemukan pada area dengan banyak sawah sedangkan bentuk sub periodik nocturnal ditemukan di desa terpencil, perkebunan dan
hutan-hutan disekitar sungai. Nyamuk yang berlaku sebagai vektor B. malayi adalah nyamuk malam dari genus Mansonia, Aedes dan Culex. Anopheles barbirostris yang berkembang biak pada area persawahan diketahui sebagai vektor Brugia timori (ANONIM., 1996 ).

Terima kasih, sampai jumpa di artikel berikutnya.



DINAMIKA FILARIASIS DI I NDONESIA

Filariasis di dunia dilaporkan menghabiskan dana 5 juta US $ setiap tahun untuk penanggulangannnya dan menduduki ranking 3 setelah malaria dan tubercolosis (ANONIM, 2002a). Pada daerah tropis dan subtropis kejadiannya terus meningkat disebabkan oleh karena perkembangan kota yang cepat dan tidak terencana, yang mencetak berbagai sisi perkembangbiakan nyamuk yang akan menularkan penyakit ini. Penyakit ini menjadi persisten karena kurangya alat kontrol dan strategi yang efektif dan mudah diterapkan pada negara endemis (ANONIM., 2000).
Tiga spesies cacing filaria penyebab filariasis limfatik adalah Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia timori. Wuchereria bancrofti merupakan spesies yang paling umum ditemukan pada kasus infestasi oleh cacing ini (SCHMIDT dan ROBERT, 2000). Penyebaran penyakit diperantarai oleh nyamuk sebagai vektor. Cacing dewasa filaria hidup pada pembuluh limfasedangkan mikrofilaria hidup dalam darah (MCMAHON dan SIMONSEN, 1996). Cacing betina melepaskan mikrofilaria dalam pembuluh darah tepi dan dihisap oleh nyamuk yang selanjutnya agen infeksi ini disebarkan dari hewan ke manusia atau dari manusia ke manusia (ANONIM., 1996; SCHMIDT dan ROBERT, 2000).
Filariasis di Indonesia sepanjang tahun 2004-2005 ini telah dilaporkan terjadi di Sumatera Selatan sebanyak 48 kasus (ANONIM., 2005a), Tangerang 32 kasus (ANONIM., 2005b), Depok 1 kasus, dan lebih 17 Kabupaten di Jawa Barat termasuk Bogor (5 kasus), Sukabumi (6), Cianjur (6), Garut (7), Tasikmalaya (7), Ciamis (7), Kuningan (4) Cirebon (4), Majalengka (1), Subang (6) , Purwakarta (5), Krawang (2), Bekasi (61), kota bekasi (18), kota Sukabumi (4), kota Bandung (1) (ANONIM., 2004). Pengendalian yang perlu adalah peningkatan pemantauan (surveilans) untuk menemukan penderita kaki gajah akut dan kronis, serta penatalaksankan pengobatan agar penderita mampu merawat dirinya sendiri (ANONIM., 2005d). Pengobatan dilakukan dengan albendazole dan diethylcarbamazine (DEC) tetapi pengobatan yang lebih ideal masih perlu diteliti lebih lanjut (ANONIM., 2000; SCHMIDT dan ROBERT, 2000).

Daftar Pustaka:
ANONIM. 1996. Wuchereria bancrofti: The causative agent of Bancroftian Filariasis http://maven.smith.edu/~sawlab/fgn/pnb/wuch ban.html#bioandepid

ANONIM. 2000. Lymphatic Filariasis. WHO Mediacentre.http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs102/en/index.html

ANONIM. 2002a. Disease burden and epidemiological trends. WHO Tropical Diseases Research. ANONIM, 2002b. Si Kaki Gajah Yang Bikin Gundah. http://www.hanyawanita.com/_health/article.p
hp?article_id=3688
 
ANONIM, 2004a. “Kaki Gajah” Serang 17 Daerah. Pikiran Rakyat, Sabtu 5 Juni 2004. ANONIM, 2004b. Eliminasi Penyakit Kaki Gajah (Filariasis) di Kecamatan Long ikis, Kabupaten Pasir, Propinsi Kalimantan Timur. Republika, 14 Januari 2004.

ANONIM,, 2005a. Ditemukan 48 Kasus Kaki Gajah di Sumsel. Kompas, 16 Mei 2005

ANONIM, 2005b. Tangerang Endemis Kaki Gajah. Republika, 23 April 2005.

ANONIM, 2005c. Tes Darah Penderita Kaki Gajah. Suara Merdeka. 12 Mei 2005.

ANONIM, 2005d. Pemerintah Berupaya Turunkan Jumlah Penderita Kaki Gajah. http://www.depkes.go.id/index.php.

MC MAHON, J.E and P.E. SIMONSEN. 1996. Filariases. dalam COOK, G. (Eds). Manson’s Tropical Diseases 20th. ELBS – W.B. Saunders, London.

SCHIMDT, G.D., ROBERTS, L.S., 2000. Foundation of Parasitology. 6thed. The McGraw Hill Companies, Inc.

Terima kasih, sampai jumpa di artikel berikutnya.



FILARIASIS DI INDONESIA

Filariasis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh cacing filaria yang ditularkan melalui berbagai jenis nyamuk. Terdapat tiga spesies cacing penyebab Filariasis yaitu: Wuchereria bancrofti; Brugia malayi; Brugia timori (1). Semua spesies tersebut terdapat di Indonesia, namun lebih dari 70% kasus filariasis di Indonesia disebabkan oleh Brugia malayi (2). Cacing tersebut hidup di kelenjar dan saluran getah bening sehingga menyebabkan kerusakan pada sistem limfatik yang dapat menimbulkan gejala akut dan kronis. Gejala akut berupa peradangan kelenjar dan saluran getah bening (adenolimfangitis) terutama di daerah pangkal paha dan ketiak tapi dapat pula di daerah lain. Gejala kronis terjadi akibat penyumbatan aliran limfe terutama di daerah yang sama dengan terjadinya peradangan dan menimbulkan gejala seperti kaki gajah (elephantiasis), dan hidrokel. Berdasarkan laporan dari kabupaten/kota, jumlah kasus kronis filariasis yang dilaporkan sampai tahun 2009 sudah sebanyak 11.914 kasus.
Filariasis dapat ditularkan oleh seluruh jenis spesies nyamuk. Di Indonesia diperkirakan terdapat lebih dari 23 spesies vektor nyamuk penular filariasis yang terdiri dari genus Anopheles, Aedes, Culex, Mansonia, dan Armigeres (3). Untuk menimbulkan gejala klinis penyakit filariasis diperlukan beberapa kali gigitan nyamuk terinfeksi filaria dalam waktu yang lama.
Filariasis menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia sesuai dengan resolusi World Health Assembly (WHA) pada tahun 1997. Program eleminasi filariasis di dunia dimulai berdasarkan deklarasi WHO tahun 2000. di Indonesia program eliminasi filariasis dimulai pada tahun 2002. Untuk mencapai eliminasi, di Indonesia ditetapkan dua pilar yang akan dilaksanakan yaitu: 1).Memutuskan
rantai penularan dengan pemberian obat massal pencegahan filariasis (POMP filariasis) di daerah endemis; dan 2).Mencegah dan membatasi kecacatan karena filariasis.
KASUS KLINIS FILARIASIS DI INDONESIA
Filariasis menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Dari tahun ke tahun jumlah provinsi yang melaporkan kasus filariasis terus bertambah. Bahkan di beberapa daerah mempunyai tingkat endemisitas yang cukup tinggi. Perkembangan jumlah penderita kasus filariasis dari tahun 2000 – 2009 tiap tahun semakin meningkat. Berdasarkan laporan tahun 2009, tiga provinsi dengan jumlah kasus terbanyak filariasis adalah Nanggroe Aceh Darussalam (2.359 orang), Nusa Tenggara Timur (1.730 orang) dan Papua (1.158 orang). Tiga provinsi dengan kasus terendah adalah Bali (18 orang), Maluku Utara (27 orang), dan Sulawesi Utara (30 orang). Kejadian filariasis di NAD sangat menonjol bila dibandingkan dengan provinsi lain dan merupakan provinsi dengan jumlah kasus tertinggi di seluruh Indonesia. Hal ini memerlukan perhatian untuk ditindak lanjuti, dan dicari kemungkinan penyebabnya.
Menurut kabupaten, pada tahun 2009 tiga kabupaten dengan kasus terbanyak filariasis adalah Aceh Utara (1.353 kasus), Manokwari (667 kasus) dan Mappi (652 kasus). Tampak perbedaan jumlah kasus yang cukup besar di kabupaten Aceh Utara dibandingkan dengan jumlah kasus pada kabupaten lainnya. Hal ini perlu menjadi perhatian dan dicari kemungkinan penyebabnya. Dari data kesehatan diketahui 87% kabupaten/kota mempunyai kasus klinis filariasis pada range 1-100 kasus, 5,9% kab/kota tidak memiliki kasus klinis filariasis, 5,2% pada range 101-200 kasus, 1,2% pada range 201-700 kasus dan 0,2% pada range >700 kasus.
ENDEMISITAS FILARIASIS
Penyelenggaraan eliminasi filariasis diprioritaskan pada daerah endemis filariasis. Endemisitas filariasis di kabupaten/kota ditentukan berdasarkan survei pada desa yang memiliki kasus kronis, dengan memeriksa darah jari 500 orang yang tinggal disekitar tempat tinggal penderita kronis tersebut pada malam hari. Mikrofilaria (Mf) rate 1% atau lebih merupakan indikator suatu kabupaten/kota menjadi daerah endemis filariasis. Mf rate dihitung dengan cara membagi jumlah sediaan yang positif mikrofilaria dengan jumlah sediaan darah yang diperiksa dikali seratus persen
Tingkat endemisitas di Indonesia berkisar antara 0%-40%. Dengan endemisitas setiap provinsi dan kabupaten berbeda-beda. Untuk menentukan endemisitas dilakukan survei darah jari yang dilakukan di setiap kabupaten/kota. Dari hasil survei tersebut, hingga tahun 2008, kabupaten/kota yang endemis filariasis adalah 335 kabupaten/kota dari 495 kabupaten/kota yang ada di Indonesia (67%), 3 kabupaten/kota yang tidak endemis filariasis (0,6%), dan 176 kabupaten/kota yang belum melakukan survey endemisitas filariasis. Pada tahun 2009 setelah dilakukan survei pada kabupaten/kota yang belum melakukan survei tahun 2008, jumlah Kabupaten/kota yang endemis filariasis meningkat menjadi 356 kabupaten/kota dari 495 kabupaten/kota di Indonesia atau sebesar 71,9% sedangkan 139
kabupaten/kota (28,1%) tidak endemis filariasis.

Terima kasih, sampai jumpa di artikel berikutnya.